Padi Tangguh Kekeringan Tak Cukup Lewat Budidaya, Webinar Agrisaintek #5 Dorong Irigasi Adaptif Berbasis Data
PURWOKERTO, 23 Oktober 2026 – Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman menggelar Soedirman Agrisaintek Webinar Series #5 bertema “Menghadapi Krisis Air: Membangun Sistem Produksi Padi yang Tangguh terhadap Kekeringan”. Webinar berlangsung melalui Zoom pada Jumat, 23 Oktober 2026, pukul 13.30-16.30 WIB. Acara ini diminati sekitar 500 pendaftar dari Aceh hingga Nusa Tenggara Timur. Mereka berasal dari mahasiswa dan dosen berbagai perguruan tinggi, peneliti BRIN, aparatur dinas pertanian dan instansi pemerintah daerah, serta praktisi.

Narasumber pertama, Prof. Ir. Suprayogi, M.Sc., Ph.D., mengingatkan bahwa El Nino sebaiknya tidak lagi dipandang sebagai anomali. Menurutnya, fenomena ini akan terus berulang, sementara kekeringan yang meningkat adalah fakta global. El Nino menaikkan suhu udara dan dapat mengganggu siklus hidrologi. Di Jawa Tengah, titik kritis ditandai dengan sekitar 150 hari tanpa hujan, ketika sebagian besar sungai mengering dan air hanya tersisa di sungai-sungai besar. Karena itu, ia menekankan perlunya perencanaan yang menyesuaikan perubahan iklim dan penerapan teknologi hemat air.
Pada sesi berikutnya, Ir. Purwandaru Widyasunu, M.Sc.Agr. membahas cara menerjemahkan informasi iklim menjadi keputusan pengelolaan air. Pesan utamanya: indeks memberi sinyal, bukan perintah. SPI-3, indeks curah hujan skala tiga bulan, membantu membaca risiko kekeringan meteorologis. Namun indeks ini tidak dapat menentukan debit tersedia, operasi pintu air, atau kebutuhan air petak. Karena itu, operasi pintu dan alokasi air tidak boleh diubah hanya berdasarkan nilai SPI-3.
Sebagai ilustrasi, data NASA POWER untuk kawasan selatan Gunung Slamet menunjukkan SPI-3 bergerak dari +1,384 pada Maret 2019 menjadi −2,197 pada Agustus. Purwandaru menegaskan bahwa angka ini hanya menggambarkan perubahan temporal pada satu seri data, bukan bukti defisit debit atau gagal panen. Ia juga terbuka soal keterbatasan data. Audit menemukan seri hujan bulanan yang identik dari beberapa permintaan data, sehingga representasi spasialnya belum terverifikasi. Data stasiun DPU dan catatan lapangan kini sedang ditelaah.

Sebagai jembatan menuju keputusan lapangan, ia menawarkan siklus adaptif: sinyal SPI-3 diverifikasi dengan data debit, muka air, dan fase tumbuh padi, dikoordinasikan antarpihak, lalu diputuskan sesuai SOP dan dicatat untuk dievaluasi. Penerapannya diusulkan bertahap, mulai dari prototipe hingga uji terbatas, dengan prinsip memulai dari informasi minimum yang dapat dipercaya, bukan dashboard kompleks yang tidak digunakan. Ia menutup dengan menekankan pentingnya data hasil pengukuran lapangan dan peran kampus sebagai pelopor penyediaannya.
Kedua paparan bertemu pada satu kesimpulan: ketangguhan padi menghadapi kekeringan dibangun dari pemahaman fisiologi tanaman, teknologi hemat air, informasi iklim yang dibaca dengan tepat, dan tata kelola air yang transparan. Webinar ditutup dengan diskusi tentang bagaimana informasi iklim dapat memperkuat keputusan irigasi di Banyumas.



