Dosen Faperta Jadi Delegasi Indonesia pada ASEAN-China Women Entrepreneurs Exchange di Kamboja
Siem Reap, Kamboja, 18–20 Agustus 2026 — Ketua Pusat Inkubator Bisnis Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Nur Wijayanti, S.TP., M.P., yang juga Dosen Prodi Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Unsoed, mendapat kepercayaan dari Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Republik Indonesia untuk menjadi delegasi Indonesia dalam forum internasional ASEAN-China Women Entrepreneurs Exchange yang diselenggarakan di Siem Reap, Kamboja, pada 18–20 Agustus 2026.
Forum yang mengangkat tema “Addressing Challenges and Advancing Leadership in MSME Development” tersebut mempertemukan delegasi dari negara-negara ASEAN bersama perwakilan dari Tiongkok. Kegiatan ini menjadi wadah pertukaran pengalaman, pengetahuan, serta praktik baik dalam pengembangan dan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya dalam memperkuat peran dan kepemimpinan perempuan dalam dunia usaha.
Sebagai Ketua Pusat Inkubator Bisnis LPPM Unsoed, keikutsertaan Nur Wijayanti dalam forum tersebut menjadi kesempatan penting untuk memperkenalkan pengalaman dan praktik pengembangan UMKM melalui inkubasi bisnis, pendampingan usaha, inovasi, serta kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan.

Nur Wijayanti menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya karena mendapat kesempatan untuk mewakili Indonesia dalam forum internasional tersebut.
“Saya sangat senang dan merasa terhormat dapat dipercaya oleh Kementerian UMKM Republik Indonesia untuk menjadi delegasi Indonesia dalam forum ASEAN-China Women Entrepreneurs Exchange ini. Bagi saya, kesempatan ini bukan hanya untuk mewakili Indonesia, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar, berbagi pengalaman, dan membangun jejaring dengan para pelaku dan penggerak UMKM dari negara-negara ASEAN dan Tiongkok,” ungkapnya.
Dalam forum tersebut, Nur Wijayanti juga berkesempatan mengikuti berbagai sesi diskusi dan pertukaran pengalaman mengenai tantangan yang dihadapi UMKM, strategi pengembangan usaha, penguatan kapasitas perempuan pengusaha, serta pentingnya keberlanjutan program pemberdayaan UMKM.
Menurutnya, salah satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan UMKM adalah memastikan agar berbagai program pemberdayaan tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Program pendampingan perlu dirancang secara berkelanjutan sehingga UMKM tidak hanya memperoleh pelatihan, tetapi juga mendapatkan akses terhadap jejaring bisnis, pasar, pembiayaan, inovasi, teknologi, legalitas, serta pendampingan yang berkelanjutan.
Hal tersebut sejalan dengan peran Pusat Inkubator Bisnis LPPM Unsoed dalam mendampingi dan mengembangkan UMKM melalui berbagai tahapan inkubasi, mulai dari peningkatan kapasitas, penguatan model bisnis, legalitas usaha, inovasi produk, pemasaran, hingga pengembangan jejaring dan akses pasar.
“Saya berharap forum ini dapat memberikan manfaat yang besar, baik bagi saya secara pribadi maupun bagi Pusat Inkubator Bisnis LPPM Unsoed. Pengetahuan dan pengalaman yang saya peroleh dari negara-negara lain diharapkan dapat dibawa pulang dan diaplikasikan di Indonesia, sehingga dapat memperkuat program pendampingan dan inkubasi bagi UMKM,” tambah Nur Wijayanti.
Lebih lanjut, ia berharap pertemuan tersebut tidak hanya menghasilkan pertukaran pengetahuan, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dan jejaring internasional antara institusi di Indonesia dengan berbagai pihak dari negara-negara ASEAN dan Tiongkok.
Menurutnya, kolaborasi lintas negara sangat penting dalam menghadapi tantangan UMKM yang semakin kompleks di era globalisasi. Pertukaran pengalaman mengenai digitalisasi, inovasi, akses pasar, pengembangan produk, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta pemberdayaan perempuan dapat menjadi sumber pembelajaran bagi pengembangan UMKM di Indonesia.
“Saya berharap dari forum ini akan terjalin kolaborasi dengan delegasi dari negara-negara lain. Semoga pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik yang saya dapatkan dapat diaplikasikan di Indonesia untuk turut memajukan UMKM, khususnya UMKM yang dikelola dan dipimpin oleh perempuan,” tuturnya.
Keikutsertaan Nur Wijayanti sebagai delegasi Indonesia dalam ASEAN-China Women Entrepreneurs Exchange sekaligus menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring internasional Pusat Inkubator Bisnis LPPM Unsoed dan memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan UMKM.
Melalui forum tersebut, diharapkan semakin banyak peluang kerja sama dan pertukaran pengetahuan yang dapat memberikan dampak nyata bagi pengembangan UMKM Indonesia, khususnya dalam mendorong kemandirian, daya saing, inovasi, dan kepemimpinan perempuan dalam sektor UMKM.
#sdg1 #sdg2 #sdg3 #sdg17
#kemitraan #faperta #unsoed


