Faperta Unsoed Gelar Webinar Transformasi Industri Pangan Halal, Kupas Tata Kelola hingga Uji DNA di Laboratorium
PURWOKERTO, 29 September 2026 – Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Faperta Unsoed) menyelenggarakan Soedirman Agrisaintek Webinar Series #4 bertajuk “Transformasi Industri Pangan Halal: Inovasi Teknologi, Manajemen, dan Keberlanjutan”. Kegiatan berlangsung hari ini, Selasa (29/9/2026), pukul 13.30 WIB melalui Zoom Meeting.
Industri pangan halal kini dituntut lebih dari sekadar memenuhi aspek kehalalan. Pelaku usaha diharapkan mampu menghadirkan inovasi teknologi, menjaga mutu, dan memastikan rantai pasok tetap berkelanjutan. Untuk menjawab tantangan itu, Faperta Unsoed menghadirkan dua guru besar yang membahas persoalan ini dari dua sisi, yakni tata kelola dan pembuktian ilmiah.
Narasumber pertama, Prof. Poppy Arsil, S.TP., M.T., Ph.D., Ketua Halal Center Unsoed, menyampaikan materi tentang strategi manajemen halal terintegrasi. Dalam paparannya, Prof. Poppy menegaskan bahwa halal saat ini telah menjadi standar kepercayaan konsumen global, bukan hanya status kepatuhan syariah. Ia mengutip data Bank Indonesia (2026) yang mencatat nilai ekonomi produk halal bersertifikat di Indonesia mencapai Rp2,247 triliun pada 2025. Menurutnya, kepatuhan, sertifikasi, dan keberlanjutan rantai pasok tidak boleh berjalan sendiri-sendiri karena celah di antara ketiganya dapat memicu kontaminasi, ketidaksesuaian dokumen, hingga hilangnya kepercayaan pasar.
Prof. Poppy juga mengulas perjalanan sertifikasi halal di Indonesia yang bergeser dari sukarela menjadi wajib dan diberlakukan bertahap. Kewajiban itu dimulai dari makanan dan minuman pada 2024, kemudian merambah kosmetik, obat tradisional, hingga alat kesehatan sampai 2034. Ia turut membandingkan jalur sertifikasi reguler dengan self declare, serta menyinggung pengakuan timbal balik antara BPJPH dan lembaga halal luar negeri. Sebagai contoh praktik, ia mengangkat sistem halal produk daging di Australia, negara eksportir daging halal terbesar kedua di dunia, yang melibatkan pemerintah, organisasi Islam yang disetujui, dan rumah potong hewan dengan penekanan kuat pada ketertelusuran dan pemisahan produk.
Dari sisi pembuktian ilmiah, Prof. Dr. dr. Lantip Rujito, M.Si.Med., Ketua Laboratorium Riset Fakultas Kedokteran Unsoed, memaparkan teknologi terkini untuk mendeteksi pangan tidak halal, dengan fokus pada beragam organisme. Ia menjelaskan bahwa kontaminasi bahan haram tidak selalu terlihat oleh mata dan tidak selalu tercatat di dokumen pemasok, sehingga laboratorium berperan menyediakan bukti ilmiah bagi penetapan status halal.
Metode yang menjadi rujukan utama, kata Prof. Lantip, adalah real-time PCR dengan probe TaqMan, yang telah diakui lembaga standardisasi internasional dan diadopsi dalam pengujian halal di Indonesia. Metode ini menyasar DNA mitokondria, seperti gen cytochrome b, karena jumlah salinannya banyak dan tetap dapat dideteksi meski bahan telah diolah menjadi sosis atau gelatin. Ia juga menekankan pentingnya kontrol kualitas berlapis agar hasil uji dapat dipertanggungjawabkan, serta menyoroti pelajaran dari kasus pengujian daging burger di Irlandia pada 2013 dan kasus cokelat di Malaysia pada 2014. Di bagian akhir, ia memperkenalkan teknologi yang akan datang, antara lain digital PCR, next generation sequencing, dan lab-on-a-chip.
Melalui webinar ini, Faperta Unsoed ingin menegaskan bahwa kehalalan produk bukan hanya urusan label, melainkan hasil kerja bersama antara tata kelola yang rapi, sertifikasi yang kredibel, dan pembuktian ilmiah yang bisa diuji. Kolaborasi antara dunia akademik, pelaku industri, dan regulator dinilai menjadi kunci agar industri pangan halal Indonesia mampu bersaing di pasar lokal maupun global.




